Wajib Mandi Setelah Onani

Posted on

Wajib Mandi Setelah Onani

Tanya: Bila orang melakukan onani tapi tidak mengeluarkan sperma, apakah ia wajib mandi setelah onani?

Jawab: Agama Islam sangat memperhatikan kebersihan dan kesucian, baik fisik, jiwa maupun hati. Bersih dan suci adalah dua kata yang berbeda makna, sebab tidak semua yang bersih adalah suci.

Demikian pula sebaliknya, tidak semua yang suci dapat dipandang sebagai sesuatu yang bersih. Arti kebersihan dan kesucian amat penting karena berkait erat dengan keabsahan ibadah shalat kita sehari-hari.

Baca juga : Apakah Memyentuh Istri Membatalkan Wudlu?

Baca juga : Hukum Tayamum dan Shalat di Pesawat

Ada beberapa cara untuk membersihkan dan menyucikan fisik atau badan, antara lain mandi. Sedangkan untuk jiwa dan hati bisa dilakukan dengan menghindarkan diri dari sifat-sifat tercela, seperti riya’, munafik, atau, hasud.

Mandi pada dasarnya berhukum mubah, tetapi karena beberapa hal status hukum mandi bisa berubah menjadi wajib.

Dalam literatur fikih dijelaskan, hal-hal yang membuat mandi wajib dilakukan ada 6 (enam) macam. Tiga macam untuk laki-laki dan perempuan. Sementara tiga macam lagi khusus bagi perempuan.

Untuk yang pertama adalah karena liqaul khitanaini atau jima’, keluarnya sperma dan meninggal. Sedangkan yang khusus untuk perempuan adalah haid, nifas, dan melahirkan.

Keenam masalah itu dapat meyebabkan seseorang berkewajiban mandi. Bila tidak mampu, maka harus dimandikan oleh orang lain.

Apakah seseorang yang melakukan onani tetapi tidak mengeluarkan sperma wajib mandi? Mengingat keluarnya sperma merupakan salah satu sebab membuat seseorang wajib mandi?

Perlu diketahui, sifat-sifat sperma hampir sama dengan madzi dan wadzi, sehingga para ulama fikih membedakan ciri khusus pada sperma. Pertama, bila basah berbau seperti adonan roti, tetapi bila mengering menyerupai bau telur. Kedua, bila keluar secara infadaq (memancar). Ketiga, saat keluar disertai rasa nikmat.

Bila ada cairan yang mempunyai tiga ciri tersebut, maka dihukumi sebagai sperma dan tidak najis. Hal itu perlu dipahami, karena penis yang sedang ereksi terkadang diiringi keluarnya lendir.



Yang dimaksud madzi adalah cairan putih dan tidak kental yang keluar
dari kemaluan. Madzi keluar tanpa disertai dorongan syahwat yang kuat
Adapun wadzi berwarna putih agak keruh dan kental.

Biasanya wadzi keluar mengiringi air kencing atau saat mengangkat beban terlalu berat. Keduanya berhukum najis.

Keluarnya sperma baik disengaja maupun tidak dapat membuat seseorang wajib mandi. Tetapi bagi seseorang yang melakukan onani atau perangsangan terhadap diri sendiri tetapi tidak sampai mengeluarkan sperma, tidak diwajibkan mandi. Demikian penjelasan dalam kitab Asy-Syarqawi.

Kendati demikian, sebagai hamba Allah Swt yang taat seyogyanya kita menghindari perbuatan-perbuatan tercela semacam itu. Bahkan perbuatan
tersebut tergolong kotor dan tercela. Hal itu jelas bertolak belakang dengan
hakikat Islam yang mencintai kebersihan dan kesucian. Orang orang yang melakukan perbuatan tersebut termasuk orang yang tidak akan dipedulikan oleh Allah Swt pada hari kiamat kelak.

Demikian hukum mandi setelah onani. Semoga bermanfaat

 

Sumber: K.H MA. Sahal Mahfudh. 2010. “Mandi Wajib Setelah Onani” dalam Dialog Problematika Umat. Khalitsta Surabaya Bekerjasama dengan LTN PBNU: Surabaya. Hal. 36-37

 

(Ulama Nusantara)

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *