Patungan Membeli Hewan Qurban
Patungan Membeli Hewan Qurban

Patungan Membeli Hewan Qurban, Bolehkah?

Posted on

Patungan Membeli Hewan Qurban

Tanya: Seperti kita maklumi bersama, harga seekor sapi jutaan rupiah. Apalagi yang besar dan gemuk. Karena itu, saya mempunyai gagasan membeli sapi bersama-sama dengan orang lain secara patungan. Pertanyaan saya, apakah hal itu diperbolehkan?

(Muntafiun, Demak)

Jawab: Bulan Dzulhijjah termasuk bulan istimewa. Paling tidak terdapat dua alasan. Pertama, pada bulan itu terdapat Idul Adha. Kedua, di dalamnya pula ibadah haji, rukun Islam kelima, ditunaikan. Idul Adha yang jatuh pada tanggal 10 Dzulhijjah, tidak dapat dilepaskan dari ibadah Qurban, yakni penyembelihan hewan dalam rangka beribadah kepada Allah Swt. sebagai ungkapan rasa syukur atas nikmat-nikmat-Nya. Istilah qurban diambil dari bahasa Arab al-qurban, yang secara harfiah mempunyai arti “dekat”. Sebab dengan penyembelihan hewan qurban, seseorang berusaha mendekatkan diri pada Allah.

Perintah berqurban dijumpai dalam Al-Qur’an, surat Al-Kautsar, ayat 2, yang berbunyi, “Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu dan berqurbanlah.”

Di samping itu, banyak hadis yang menjelaskan berbagai aspek tentang qurban. Berkurban hukumnya sunat muakkad. Sehingga sangat dianjurkan (bagi) orang-orang yang secara ekonomi mampu membeli hewan kurban (Madzahib al-Arba’ah, l, h. 717). Qurban merupakan salah satu ibadah sosial (al-‘ibadah al-ijtima’iyah) yang manfatnya tidak terbatas pada pelakunya.

Di sinilah letak nilai lebih ibadah qurban dibandingkan dengan ibadah lain yang bersifat individual (al-‘ibadah asy-syakhshiyah).

Baca Juga : Cara Shalat Saat Sakit

Tidak semua hewan dapat dijadikan qurban. Pertama-tama, hewan halal dimakan. Hewan yang halal banyak jenisnya. Tetapi yang sah untuk berkurban menurut para ulama’, terbatas pada tiga jenis, yaitu unta, sapi/kerbau, dan kambing.

Itu pun masih ditambah persyaratan mencapai umur minimal. Unta paling tidak harus berumur lima tahun.

Sapi/kerbau berumur dua tahun. Kambing domba (adh-dha’n) telah berumur satu tahun. Kambing kacang (al-ma’z) paling tidak sudah genap berumur dua tahun.(Al-Madzahib Al-Arba’ah, I, h. 719).

Selain itu, hewan qurban harus bebas dari cacat/penyakit yang dapat mengurangi daging. Tidak cukup berqurban dengan bewan yang buta, pincang, sangat kurus, sakit dan lain-lain.



Ketentuan ini sepenuhnya bisa dimaklumi. Hewan yang sakit, di samping dagingnya kadangkala berbahaya bagi kesehatan, pada umumnya badannya kurus karena tidak tumbuh secara normal. Begitu juga hewan yang pincang dan buta.

Sedangkan hewan yang terlaļu kurus, dagingnya sedikit. Padahal qurban dimaksudkan oleh Allah Swt sebagai suguhan (dhiyafah) kepada hamba-hamba-Nya (Madzahib Al-Arba’ah, I, h. 719).

Dari ketiga jenis di atas, unta yang paling utama. Disusul sapi/kerbau dan kambing. Tetapi tujuh ekor kambing untuk satu orang masih lebih baik daripada seekor unta. Urutan ini berdasarkan jumlah daging yang dimiliki.

Unta lebih besar daripada sapi. Sapi lebih besar daripada kambing. Dengan pertimbangan yang sama, hewan yang gemuk lehih diutamakan daripada yang kurang gemuk. (Majmu’, VIII, h. 395).

Skala prioritas tersebut sejalan dengan salah satu kaidah fiqh yang berbunyi “al-muta’addiy afdhal min al-qashir” (ibadah yang dirasakan manfaatnya oleh orang banyak lebih utama daripada ibadah yang dirasakan oleh sedikit atau satu orang). Hewan yang lebih besar atau gemuk, dagingnya dapat dirasakan oleh lebih banyak orang.

Manusia dalam masalah rezeki tentu saja berbeda-beda. Mengingat harga sapi relatif lebih mahal dan tidak terjangkau bagi kalangan tertentu, terlontar ide untuk membelinya secara patungan (al-isytirak) dengan orang lain. Menurut kitab-kitab fiqh Madzhab Syafi’i, Hanafi, dan Hanbali, tindakan ini diperbolehkan asalkan pesertanya tidak melebehi tujuh orang (Al-Majmu’, VIII, h. 398, Madzahib, I, h. 721, Mausu’ah Al-Ijma’, I, h. 107).

Dalam satu hadis dari sahabat Jabir Ibnu Abdillah, beliau berkata:

“Kami menyembelih bersama Rasulullah Saw. pada tahun Hudaibiyah, seekor unta untuk tujuh orang dan seekor sapi untuk tujuh orang (Subul As-Salam, IV, h 95). Dalam hadis lain Rasulullah Saw. bersabda: “Seekor unta untuk mencukupi tujuh orang dan seekor sapi mencukupi tujuh orang”. (Mausu’ah Al-Fiqh Al-Islami, XIII, h. 330). Imam Al-Baihaqi, Sababat Ali, Hudzaifah, Abi Mas’ud Al-Anshari, dan Aisyah juga berpendapat bahwa seekor sapi cukupu ntuk tujuh orang, (Majmu’, VIII, h.399).



Dengan demikian, dapat saja tujuh orang sepakat membeli seekor sapi untuk keperluan qurban dan harganya ditanggung bersama, setiap orang membayar sepertujuh dari harga. Bahkan menurut madzhab Syafi’i, ketujuh orang terebut tidak disyaratkan berniat melakukan qurban semua.

Jadi tidak tertutup kemungkinan, tiga dari mereka ikut patungan membeli sapi untuk nuak keperluan konsumsi bukan berqurban.

Sehingga setelah disembelih, ketiganya mengambil bagian masing-masing, baru sisanya yang menjadi bagian empat orang menjadi daging qurban sesuai dengan niatnya semula.

Meskipun tujuh orang berqurban dengan seekor unta atau sapi secara patungan diperkenankan, para ulama berpendapat, satu orang berqurban seekor kambing lebih utama. (Majmu’, VIII, h. 395).

Kalau seekor sapi sudah mencukupi buat qurban tujuh orang, seekor kambing hanya untuk satu orang. Maka tidak boleh dua orang secara patungan membeli seekor kambing untuk berqurban bersama-sama. Sebab, tidak terdapat dalil yang memperbolehkan

 

Sumber: K.H MA. Sahal Mahfudh. 2010. “Patungan Membeli Hewan Qurban” dalam Dialog Problematika Umat. Khalitsta Surabaya Bekerjasama dengan LTN PBNU: Surabaya. Hal. 173-175

 

(Ulama Nusantara)

 

One thought on “Patungan Membeli Hewan Qurban, Bolehkah?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *