Ngaji Kitab Arbain Nawawi Hadist 9 tentang Melaksanakan Perintah Sesuai Kemampuan
Ngaji Kitab Arbain Nawawi Hadist 9 tentang Melaksanakan Perintah Sesuai Kemampuan

Ngaji Kitab Arbain Nawawi Hadist 9 (Gus Mus)

Posted on

Ngaji Kitab Arbain Nawawi Hadist 9 tentang Melaksanakan Perintah Sesuai Kemampuan

“الحديث التاسع عن أبى هريرة عبد الرحمن بن صخر رضى الله عنه قال:سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول (ما نهيتكم عنه فاجتنبوه وما أمرتكم به فأتوا منه ما استطعتم فإنما اهلك الذين من قبلكم كثره مسائلهم واختلافهم على أنبيائهم)
رواه البخاري ومسلم

Perhatikan sabda Kanjeng Rasul Saw (ini). “Kamu kalau kularang sesuatu, tinggalkan.” Kamu dilarang minum arak, ya jangan (dilakukan). Tinggalkan.

Kalau kuperintahkan sesuatu, lakukanlah semampumu.

Ini perhatikan ada mastato’tum (مَااسْتَطَعْتُمْ/ semampumu).

Itu yang berulang kali saya bilang kalau Kanjeng Rasul Saw itu manusia yang sangat manusiawi. Beliau mengerti manusia. Kanjeng Nabi kuat (mampu), tapi umatnya kuat (mampu) atau tidak? Belum tentu.

Makanya Kanjeng Nabi kalau perintah apa-apa, “Lakukan semampumu.” Semampumu.

Ini yang tidak memberatkan. Makanya perintah-perintah Kanjeng Rasul Saw nggak ada yang berat. Wong ada mastato’tum (مَااسْتَطَعْتُمْ/ semampumu).

Dan Kanjeng Nabi tidak sendiri. Ini karena ajaran gurunya, Gusti Allah sendiri berfirman dalam Al-Qur’an :

اِتَّقُوْااللّٰهَ مَااسْتَطَعْتُمْ

Ittaqulloha mastato’tum

Taqwa itu mastato’tum (مَااسْتَطَعْتُمْ), semampumu. Orang ndak bisa dipaksa di luar kemampuannya.

Gusti Allah juga tidak suka membebani hambanya dengan beban di luar kemampuan manusia.

Makanya Kanjeng Nabi bersabda, fa’tu minu mastato’tum (فأتوا منه ما استطعتم)

Kalau untuk meninggalkan sesuatu, itu tidak pakai mastato’tum (ما استطعتم) segala. Wong hanya tinggal meninggalkan saja kok. Tidak berat. Wong meninggalkan. Tinggal kamu tinggalkan gitu saja. “Ini jangan dimakan.” Tinggal kamu tinggalkan saja.

Apa mampu saya? Nggak ada. Nggak ada kayak gitu.

Dan jangan kebanyakan tanya macam-macam. Sudah dibilangin ini, malah kamu tanya-tanyakan.

Yang membuat, apa namanya, kaum-kaum dulu itu malah sakit (kepayahan) semua itu ya gara-gara kebanyakan pertanyaan itu.

Dulu, kaumnya nabi-nabi dulu itu kebanyakan pertanyaan, kebanyakan berselisih dengan pimpinannya. Jadi rusak.

Sudah dibilangin, “Carilah sapi, trus sembelih.”

Trus tanya,”Sapinya yang seperti apa?”

“Sapinya yang kuning.”

“Trus?” Ditanyakan.

Sudah ditanyakan warnanya, ditanyakan model sapinya seperti apa, akhirnya untuk mencarinya itu setengah mati.

Sampai kepayahan dia mencari sapi yang dibilang sama Nabi. Ini, yang gini, yang gini, yang gini. Sapi yang kuning, kuningnya yang kuning menyenangkan itu, yang tidak pernah digunakan untuk menggarap sawah dan macem-macem. Waah, kesusahan dia.

Kamu disuruh bapakmu beli rokok, langsung berangkat gitu aja. Jangan kebanyakan tanya. Malah sakit semua kamu nanti kalau kebanyakan tanya.

“Itu rokok putih apa kretek?”

“Kretek.”

“Yang kertas apa yang klobot?”

“Klobot.”

“Merknya apa?” Tanya merk segala.

“Gudang Garam.”

Gitu masih tanya, “Yang isi berapa?” Alaaahh….

Kamu nanti bisa sakit (kepayahan) semua. Kamu disuruh beli rokok, belikan gitu saja. Dibelikan, (trus kasih).

“Loh kok kamu belikan yang ini?”

“Loh, bapak, ini rokok.”

“Mauku klobot kok.”

“Bapak tadi nggak bilang klobot kok, cuma bilang rokok gitu aja.” Kamu nggak salah.

Gusti Allah sengaja, ada yang dii…

Ada yang haram, difirmankan haram. Ada yang halal difirmankan. Ada yang sama sekali tidak difirmankan.

Supaya kita mempunyai kebebasan. Tidak usah macam-macam kamu tanya-tanyakan, malah berat.

Nabi Musa itu paling sering dicontohkan berulang kali dalam Qur’an itu Nabi Musa.

Sudah ditolong melawan Fir’aun, gitu itu masih aneh-aneh Bani Israel itu.

Berselisih (tidak patuh). Disuruh duduk-duduk menunggu Nabi Musa yang mau menemui Gusti Allah Ta’ala, ditinggal tidak sampai 40 hari, sudah menyembah anak sapi emas.

Gitu itu, trus dibilangin gini, tanya-tanya, kebanyakan tanya.

Minta, dikasih makanan, dari langit dikasih makanan manna dan salwa. Sudah dikasih manna dan salwa tanya lagi,”Ini tidak ada yang lainnya? Ini bosan lama-lama. Tiap hari kok makan manna dan salwa saja.”

“Lha kamu minta itu dulu katanya.”

“Saya sekarang minta yang sejenis bawang putih, bawang merah gitu loh, yang kayak bumbu-bumbu.”

Sakit (kepayahan) semua. Karena memusuhi, apa, ikhtilaf, berselisih (tidak taat) nabinya, kebanyakan pertanyaan.

Makanya umatnya Kanjeng Nabi Muhammad Saw tidak usah memperdalam, sudah (dibilangin), “Yang haram ini ini ini. Selain ini, halal.” Gitu aja.

Makanya saya berulang kali mengkritik MUI kan gitu. Membuat label kok label halal. Wong haram dengan halal itu lebih banyak halal.

Haram cuma sedikit saja. Lha kan cari pekerjaan itu kalau labelnya halal. Kalau labelnya haram kan cuma sedikit. Lainnya halal. Tidak kebanyakan pekerjaan.

Memang orang-orang itu punya kecenderungan untuk mempersulit dirinya sendiri. (Sudah) dimudahkan oleh Gusti Allah Ta’ala, dimudahkan oleh Rasulullah Saw masih kepengen yang sulit saja. Nanti dikasih (yang) sulit, dia nggak kuat”

K.H A. Musthofa Bisri

Ngaji Kitab Arbain Nawawi Hadist 9

Baca Juga : Ngaji Kitab Arbain Nawawi Hadist 12 (Gus Mus)

Demikian ngaji kitab Arbain Nawawi Hadist 9 ini. Untuk video Ngaji Kitab Arbain Nawawi Hadist 9 tentang Melaksanakan Perintah Sesuai Kemampuan bersama K.H A. Mustofa Bisri ini, lengkap dengan subtitle bahasa Indonesianya, bisa disimak di akun instagram @ulama.nusantara

(Ulama Nusantara)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *