Israel Versus Piala Dunia (2010)

Posted on

Tindakan brutal Israel menghadapi Flotilla Gaza kurang sebulan dari gelar Piala Dunia di Afrika Selatan memicu serangkaian keprihatinan, bahkan kekhawatiran, yang saling berjalin-berkelindan. Seperti semua tahu, nasib mereka yang tertindas dan terpenjara di Gaza bergantung pada belas kasihan dunia. Insiden Flotilla Gaza sempat membangkitkan harapan bahwa dunia akan membuka mata kemudian mengambil tindakan adil dan tegas terhadap Israel. Tapi dikhawatirkan harapan itu hanya sehangat tahi ayam saja.

Harapan itu tak lebih tak kurang bertaruh pada opini publik yang digiring oleh media massa, atau isu media massa yang dianggap mencerminkan opini publik. Dampak yang diharapkan adalah bahwa para pembuat kebijakan –yakni para politisi yang bekerja mengikuti opini publik—akan mengambil sikap berdasarkan apa diramaikan oleh media massa. Berdasarkan asumsi-asumin ini, para aktifis kemanusiaan –tentulah juga mereka yang ikut serta dalam jihad Flotilla Gaza itu—yakin bahwa perlawanan tanpa kekerasan semacam itu jauh lebih efektif ketimbang konfrontasi kekerasan dalam bentuk apa pun.

Masalahnya, Israel dan para pembuat kebijakan di negara itu tidak terbiasa tunduk kepada opini publik dunia. Benyamin Netanyahu telah menandaskan bahwa Israel tidak akan merubah kebijakannya terhadap Gaza dan akan mempertahankan blokade sampai waktu yang tidak ditentukan. Selain itu, publik di sejumlah negara terkuat seperti Amerika Serikat dan negara-negara Eropa Barat selama ini juga cenderung apriori dalam bersimpati kepada Israel dan antipati pada gerakan rakyat Palestina. Itu sebabnya Tony Blair sebagai salah seorang tokoh politik Inggris secara terang-terangan dan membabi-buta menyebelahi Israel dalam soal Fortilla Gaza ini.

“Sejauh menyangkut keamanan, saya seratus persen di pihak Israel”, begitu tegasnya.

Digelarnya Piala Dunia yang dicanangkan sebagai momentum dengan magnitude raksasa kian menggelapkan harapan rakyat Palestina di Gaza. Mulai malam nanti, semua mata, semua pikiran, semua percakapan akan dipusatkan pada bendalan-bendalan si kulit bundar di Afrika Selatan. Flotilla Gaza akan lengser dari panggung media massa dan cepat sayup dari pembicaraan. Rakyat Gaza lagi-lagi harus kembali sendirian. Keadaan ini, yang telah terulang beribu kali, tak pelak lagi melahirkan frustrasi. Dan frustrasi hanya sejengkal saja jaraknya dari kekerasan.



Satu faktor yang kurang disebut-sebut tapi menurut saya amat penting memicu bangkitnya terorisme adalah konflik Israel-Palestina. Salah satu akar dari terorisme adalah sejenis keputusasaan akan dialog. Yaitu keputusasaan dari pihak kaum teroris bahwa mereka masih punya kesempatan untuk berdialog secara adil dan setara dengan pihak yang mereka anggap lawan kepentingan mereka. Bahwa Frustrasi Palestina telah melahirkan kekerasan, sudah jelas. Sudah jelas pula bahwa ketika mereka semakin merasa diabaikan oleh dunia maka mereka pun semakin mengabaikan kesentosaan dunia saat menarget pihak-pihak yang mereka anggap biang keladi kesengsaraan mereka, yaitu Israel, Amerika dan dunia (Eropa) Barat umumnya. Kita mencatat, generasi awal terorisme –dengan mengabaikan Mossad dan para perintis Zionisme—adalah petarung-petarung Plestina. Perluasan pihak dari bangsa menjadi agama hanyalah dampak lanjutan saja dari realitas demografis.

Kekhawatiran kita hari ini adalah apabila insiden Flotilla Gaza memicu tindakan balas dendam dari kaum teroris. Afrika bukanlah kawasan yang paling terjamin keamanannya. Sejumlah titik paling panas di muka bumi ada disana. Sebut saja: Sudan Selatan, Somalia, Aljazair, Nigeria, Rwanda. Belum lama ini dilaporkan bahwa ada sekitar 200-an operative Al-Qaeda bekerja di Somalia hari ini. Bahkan Afrika Selatan sendiri sempat dianggap salah satu save haven bagi sejumlah buronan penting dari kalangan tokoh teroris.

Walhasil, kebrutalan Israel tempo hari bisa berdampak provokatif terhadap kelompok-kelompok teroris. Dan Piala Dunia pastilah merupakan sasaran menggiurkan bagi mereka. Dengan kata lain, sengaja atau tidak Israel telah melakukan tindakan sabotase terhadap Piala Dunia.

Kini kita hanya bisa berharap, semoga Afrika Selatan cukup kuat menangkis ancaman keamanan dalam pelaksanaan Piala Dunia ini. Para penggemar sepak bola boleh beristirahat sejenak dari sedih, pilu dan geram. Silahkan nikmati dulu keindahan tim-tim dan pemain-pemain favorit Anda. Tapi jangan lama-lama sesudah pesta ini usai, kita ingat kembali hal-hal penting, termasuk nasib sengsara rakyat Palestina di Gaza. Insiden Fotilla Gaza telah merenggut sekurang-kurangnya –menurut klaim Israel—sembilan nyawa. Semoga tak diperlukan lebih banyak nyawa lagi untuk diserahkan cuma-cuma kepada Israel, sekedar agar dunia terpancing perhatiannya. Semoga peradaban umat manusia hari ini cukup bersabar dengan penyakitnya yang bernama Israel untuk tidak bunuh diri.

Oleh: K.H Yahya Cholil Staquf

 

(Ulama Nusantara)

One thought on “Israel Versus Piala Dunia (2010)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *