Cara shalat saat sakit
Cara shalat saat sakit

Cara Shalat Saat Sakit (K.H Sahal Mahfudh)

Posted on

Cara Shalat Saat SakitTanya: Saya termasuk hobi sepak bola. Dalam sebuah pertandingan, saya mengalami cidera cukup parah. Akibatnya tidak dapat duduk dan mmembungkukkan badan. Badan ini terasa kaku. Jika ditekuk terasa sakit bukan main Tapi saya bisa berdiri. Namun untuk ruku’ dan sujud tidak bisa. Bagaimana cara saya melaksanakan shalat saat sakit demikian?

(Ahmad Hakim, Pati)

Cara Shalat Saat Sakit – Jawab: Islam agama yang mudah. Ini sebagaimana telah ditandaskan dalam ayat sebagai berikut:

   يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

 (QS.al-Baqarah: 185)

Dalam ayat tersebut dinyatakan bahwasanya Islam itu mudah dipahami dan juga sangat mudah untuk dilaksanakan. Mudah dipahami karena sesual dengan akal pikiran manusia dari berbagai tingkatan. Mudah dilaksanakan, sebab mengenal rukhshah yang memungkinkan perubahan hukum menjadi lebih ringan dalam kondisi tertentu yang memberatkan pelaksanaan hukum asal. Contoh paling kongkrit adalah diperbolehkan makan bangkai dalam keadaan darurat. Penyebab timbulnva keringanan ada 7 (tujuh). Salah satunya penyakit. (Thariqah al Hushul. 40 dan Al Asbah wa Al-Nadair, 85)

Rukun lslam yang kedua adalah shalat. Shalat mempunyai beberapa persyaratan dan rukun Rukun shalat secara garis besar digolongkan menjadi dua, yakni ucapan (al-aqwal) dan pekerjaan atau gerakan tubuh (al-af’al). Sebagian darinya dikerjakan dengan berdiri, sebagian yang lainnya dalam posisi duduk.

Takbirotul ihrom, membaca fatihah, I’tidal dan ruku’ dikerjakan sambil berdiri. Khusus ruku’ disertai membungkukkan setengah badan sampai tangan menyentuh lutut. Membaca tahiyat atau tasyahud dan salam dilakukan dengan duduk. Sedangkan sujud menempelkan jidat, kedua telapak tangan dan kaki serta lutut di atas tanah.

Dengan demikian, setiap rukun mempunyai posisi yang khusus. Tidak dibenarkan memhaca fatihah sambil duduk atau membaca tasyahud dalam posisi berdiri. Mengabaikan posisi badan bisa berakibat pada ketidakabsahan shalat. Namun dalam kenyataan sehan-hari, karena berbagai faktor, dijumpai orang yang tidak mampu memenuhi ketentuan tersebut. Ada yang bisa berdiri tapi tidak bisa duduk, begitu sebaliknya tidak jarang pula oranyg mampu berdiri dan duduk tetapi tidak dapat membungkukkan badan.



Menghadapi kondisi demikian, kita tidak perlu khawatir seperti telah saya sebutkan di atas. Dalam fikih dikenal rukhshah, berupa dispensasi atau keringanan hukum karena hal-hal tertentu. Allah tidak membebani hamba Nya dengan kewajiban di luar kemampuannya. Dia Rahman dan Rahim

Penerapan rukhshah dalam shalat terwujud dalam bentuk diperkenankannya shalat fardhu sambil duduk bagi orang yang tidak mampu berdiri. Jika tidak bisa duduk,bolehh dengan tidur miring (al-ldhthija’). Kalau tidak mampu tidur miring, diperkenankan tidur terlentang. Kalau masih tidak bisa, maka dengan isyarat. Tidak mustahil, semua anggota badan tidak dapat digerakkan. Dalam keadaan demikian, shalat ditunaikan dengan hati. Dalam sebuah hadis dari lmran Ibn Hushain Rasulullah Saw bersabda:

(صل قائماو فان لم يستطع فقاعداو فان لم يستطع فعلي جنب والا فاوم (رواه البخاري

Artinya: Shalatlah dengan bediri. Jika tidak mampu, maka dengan duduk. Jika tidak mampu maka di atas lambung. Jika tidak mampu maka dengan isyarat. (H.R Bukhari)

Pada prinsipnya, dalam kondisi bagaimanapun, selagi orang masih berstatus mukallaf, kewajiban shalat tetap berlaku baginya (Subul al-Salam I, 200, Al-Fiqh ‘ala al MaMadzahib al-arba’ah I, 497-500, Syarqawi I, 279).

Baca Juga: Hukum Mengikuti Salah Satu 4 Madzhab

Berdasarkan keterangan tersebut, orang yang dapat berdiri tetapi tidak bisa duduk dan membungkukkan badan, semua rukun shalatnya dikerjakan dengan berdiri. Karena tidak mampu membungkukkan badan, ruku’ dan sujud cukup dilakukan dengan isyarat (al-ima’), yaitu membungkukkan badan semampunya, tidak harus sampai tangan menyentuh lutut. Isyarat sujud lebih rendah atau lebih ke bawah daripada isyarat ruku’, tidak boleh sama (Al-Fiqh ‘ala al MaMadzahib al-arba’ah I, 497-500, atau lihat juga Syarqawi I, 279)

Intinya, kita diperintahkan menunaikan ibadah sesuai dengan kemampuan Hal ini berarti, sebagjan pekerjaan dalam satu ibadah yang mungkin dilakukan tidak boleh ditinggalkan karena terdapat kesulitan menjalankan sebagian pekerjaan yang lain. Ini sesuai dengan kaidah fikih “al-maisir la yasquth bil ma’sur” (yang mudah tidak gugur oleh yang sulit) yang di-istimbath-kan dari sabda Rasulullah Saw:

(اذا امرتكم بامر فأتوا منه مااستطعتم (متفق عليه




Artinya: “Jika aku memerintahkan kamu sesuatu(perintah) maka laksanakanlah semampumu”(Muttafaq ‘alaih)

Shalat harus sujud dan ruku’ secara sempurna, shalat tetap dilaksanakan menurut kemampuan, tanpa berkurang pahalanya. (Al-Asybah wa al-Nazhair,176,atau periksa juga pada Syarqawi: I, 279)

Lagi pula, tujuan shalat yang asasi adalah lidzikrillah, untuk mengingat Allah. Dan itu dapat dicapai tanpa menialankan rukun secara sempurna karena alasan yang dibenarkan oleh agama.

 

Demikian tata cara shalat saat sakit. Semoga bermanfaat

 

Sumber: K.H MA. Sahal Mahfudh. 2010. “Cara Shalat Saat Sakit” dalam Dialog Problematika Umat. Khalitsta Surabaya Bekerjasama dengan LTN PBNU: Surabaya. Hal. 46-48

 

(Ulama Nusantara)

2 thoughts on “Cara Shalat Saat Sakit (K.H Sahal Mahfudh)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *