Apakah Menyentuh Istri Membatalkan Wudlu
Apakah Menyentuh Istri Membatalkan Wudlu

Apakah Menyentuh Istri Membatalkan Wudlu?

Posted on

Apakah Menyentuh Istri Membatalkan Wudlu?

Tanya: Apakah suami jika menyentuh istri membatalkan wudlu? Saya pernah melihat seorang suami menyentuh istrinya, lalu shalat tanpa berwudlu lebih dahulu.

(Ny. lin Farina)

Jawab: Seperti kita maklumi bersama bahwa salah satu syarat sahnya shalat adalah suci dari hadas dan najis. Untuk menghilangkan hadas kecil, kita diwajibkan berwudlu dan untuk menyucikan diri dari hadas besar kita diharuskan mandi.

Ketika kita menanggung hadas kecil dan hendak mengerjakan shalat diharuskan berwudlu terlebih dahuhu. Sebaliknya dalam keadaan suci yang perlu kita perhatikan adalah mempertahankan atau menjaga status kesucian itu dengan cara menghindari semua perkara yang dapat membatalkan wudlu. Atau hal ini secara populer dinamakan mubthilat al-wudlu atau asbab al-hadats.

Baca Juga: Berbicara Membatalkan Wudlu?

Baca Juga: Hukum Tayamum dan Shalat di Pesawat

Pertanyaan selanjutnya adalah apakah menyentuh istri oleh suami termasuk perkara yang dapat membatalkan wudlu? Permasalahan ini diajukan penanya setelah dalam satu kesempatan melihat seorang lelaki menyentuh istrinya langsung shalat tanpa berwudlu terlebith dahulu.

Kebimbangan penanya sangat wajar sekali karena dalam banyak hal istri itu secara hukum dibedakan dari perempuan lain. Perlu kita ketahui bahwa para ulama berbeda pendapat tentang batalnya wudlu akibat persentuhan kulit antara lelaki dan perempuan secara umum.

Imam Nawawi dalam kitabnya al-Majmu’ Syarah al-Muhadzab: II, 30 menjelaskan paling tidak ada 7 pendapat dalam masalah tersebut.

Pertama, persentuhan kulit antara lelaki dan perempuan bukan mahram secara langsung (tanpa penghalang) dapat membatalkan wudlu baik dengan sengaja atau tanpa sengaja disestai atau tanpa sahwat.



Ini merupakan pendapat Madzhab Syafi’i. Umar bin Khaththab, Ibnu Mas’ud dan Abdullah bin Umar demikian halnya Makhul al-Sya’bi, al-Nakhai dan lain lain

Kedua, tidak membatalkan secara mutlak. Pendapat ini kebalikan dari pendapat pertama. Para pelopornya antara lain Ibnu Abbas, Atho, Masruq dan Abu Hanifah termasuk beberapa tokoh yang mendukung pendapat kedua ini.

Ketiga, persentuhan tersebut membatalkan bila disertai sahwat. Dengan demikian, persentuhan itu tidak batal kalau terjadi tanpa dengan syahwat.

Keempat, membatalkan jika dilakukan dengan sengaja.

Kelima, membatalkan kalau menyentuhnya dengan anggota wudlu

Keenam, membatalkan jika disertai sahwat walaupun terdapat penghalang yang tipis

Ketujuh, kalau menyentuh perempuan yang halal (istri) tidak batal. (Lihat pula al-Mizan al-Kubra: I, 120)

Dan keterangan Imam Nawawi tampak jelas babwa menurut madzhab Syafi’i yang selama ini kita amalkan menyentuh perempuan membatalkan wudlu. Tentu saja yang dimaskud di sini adalah perempuan yang sudah cukup dewasa dalam arti sadah dapat menarik lawan jenisnya, serta tidak tergolong mahram,yakni perempuan yang haram dinikah akibat hubungan nasab, hubungan perkawinan dan susuan.

Adapun istri, karena tidak termasuk mahram, menyentuhnya tetap membatalkan wudlu.

Kalau ditelusuri lebih dalam, salah satu penyebab timbul perbedaan di atas adalab ketidaksamaan dalam memaknai kata lamastun pada ayat 43 surat al-Nisa sebagai berikut:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَقْرَبُوا الصَّلَاةَ وَأَنْتُمْ سُكَارَىٰ حَتَّىٰ تَعْلَمُوا مَا تَقُولُونَ وَلَا جُنُبًا إِلَّا عَابِرِي سَبِيلٍ حَتَّىٰ تَغْتَسِلُوا ۚ وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَىٰ أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَفُوًّا غَفُورًا

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri masjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja hingga kamu mandi. Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau kembali dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci), sapulah mukamu dan tanganmu. Sesangguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun “(QS. al-Nisa: 43)

Terhadap ayat ini, sebagian ulama mengartikannya dengan “menyentuh”. Sedangkan sebagian yang lain menginterpretasi-kannya dengan “bersetubuh”. Keduanya dari segi bahasa memang dimungkinkan. Keterangan lebih lanjut misalnya dapat dilihat pada kitab Rawa’i al-Bayan: I, 477-490.



Dengan demikian, kalau penanya pernah melihat suami menyentuh istrinya langsung shalat ada beberapa kemungkinan untuk menjelaskannya. Partama,persentuhan tersebut tidak secara langsung dalam arti terdapat
penghalang antara kulit suami dan istri berupa kain, plastik, dan lain sebagainya.

Kedua, dia mengikuti madzhab yang tidak menganggap kejadian tersebut membatalkan wudlu, misalnya pendapat kedua. Ketiga, orang tersebut lupa bahwa dia menyentuh istrinya. Keempat, suami tersebut tidak mengetahui tindakannya dapat membatalkan wudlu.

Kalau dirasa sulit menghindari persentuhan kulit dengan istri khususnya atau perempuan pada umumnya, dapat saja kita berpindah madzhab dengan mengikuti madzhab Hanafi yang dikembangkan oleh Imam Abu Hanifah.

Sudah barang tentu mengikutinya harus secara total dalam satu qadhiyah, dalam hal ini meliputi tata cara berwudlu dan hal-hal yang bersangkutan dengannya secara komplit yang meliputi rukun, syarat, dan perkara yang membatalkan.

Rukun wudlu menurut Mazhab Hanafi ada empat, yakni membasuh muka, kedua tangan dan kaki, dan mengusap seperempat kepala. Sedangkan perkara yang membatalkan meliputi keluarnya sesuatu dari jalan depan dan belakang, hilangnya kesadaran, tertawanya orang shalat dengan terbahak-bahak, bersetubuh, mengalirnya najis seperti darah dan nanah dari badan, muntah-muntah sampai memenuhi mulut. (Khulashah al-Kalam fi Arkan al-Islam, 33-34)

Demikian jawaban pertanyaan apakah menyentuh istri membatalkan wudlu dari K.H Sahal Mahfudz.

Sumber: K.H MA. Sahal Mahfudh. 2010. “Menyentuh Istri Membatalkan Wudlu?” dalam Dialog Problematika Umat. Khalitsta Surabaya Bekerjasama dengan LTN PBNU: Surabaya. Hal. 6-9

 

(Ulama Nusantara)

 

 

 

One thought on “Apakah Menyentuh Istri Membatalkan Wudlu?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *